“ Keindahan bukan suatu bentuk kebahagiaan
Ketenangan bukan suatu argumen kedamaian
Melainkan kebersamaan adalah suatu hal yang memberi kesan dan kebahagiaan tersendiri dalam hati masing-masing
Kadang – kadang kita membiarkanya begitu saja
Acuh, angkuh bahkan tak peduli
Semua itu akan terasa pahit ketika waktu tak membiarkan dan bahkan tak mengizinkan untuk bisa bersama
Baru kita merasa bahwa sangat berarti arti sebuah kebersamaan
Setiap manusia mempunyai ego, karakter, dan pribadi masing-masing
Itulah yang membedakan satu dengan yang lainya
Bukan dalam arti kita semua berbeda
Melainkan dari perbedaan itu kita bisa memperpadukanya
Menyimpulkan dan mendefinisikan arti kebersamaan yang sebenarnya
Mungkinkah kita bisa benar bersama . . . . ?
Adakah waktu mengizinkan untuk kebersamaan kita . . . ?
Apakah semua ini hanya sebuah penantian . . . . !
Penantian yang belum pasti jawabanya . . . !
Penantian yang dimana letaknya . . . . . !
Aku hanya bisa berharap
Semoga suatu saat kita bisa benar bersama
Dan waktu memihak pada penantian kita
Seperti yang pernah kau katakan
Arti indahnya sebuah penantian pada akhirnya. Amiin. ”
“ God knows since when you’re in my heart
And God know since when you came into in my life
Since I’m there you’ve been whith me
Life is a wonderfull journey
Life is like a long path where people just keep walking by whom are you waiting for then walk a long till the end
I’ve been waiting all this while since I’ve met you in my life
Love is like a secrifice which people always have to bare
Let us take this secrifice to show that we really care
I’ll do anything for you to show that I love you
And I love you cause Allah “
berisi kumpulan kumpulan cerita menakjukan hati
Blog Archive
-
▼
2009
(28)
-
▼
Juli
(28)
- Wanita Berjilbab
- Badai Pasti Berlalu
- Aset No.1 : Kunci Sukses
- Dilahirkan Untuk Menang!
- Ketabahan Hidup Sebelum Menuai Sukses
- Artipenting Tujuan Hidup
- Antara Cinta dan Nafsu
- SEBUAH REFLEKSI: ANTARA KENANGAN, KERINDUAN DAN PE...
- Kiat Efektif menjadi Pede dan Pandai Bicara
- Ketika Cinta di Khianati
- Saling Berbagi, Berbagi Semangat
- Renungan!
- Bulan : Sabit Untuk Purnama atau Purnama Untuk Sabit?
- Keindahan Sebuah Khayalan
- Indahnya Kehidupan
- Wasiat Cinta dan Kehidupan
- Bijaksana, Ulet Dan Tekun Dalam Setiap Cobaan
- Renungan Motivasi
- Belajar dalam Setiap Pembelajaran = SUKSES
- Lingkungan Membuat Kita Menjadi Besar
- Spiritual Intellegence
- Remaslah Tanganku dan Kukatakan Aku Sayang Kamu
- Cinta Tanpa Syarat
- Tidak Ada Yang Sia-Sia
- Menumbuhkan Semangat Juara
- Bulatkan Tekad dan Tawakal
- Membangkitkan Semangat
- Cara Peraktis Menenangkan Diri
-
▼
Juli
(28)
Hidup kadang membuat kita jadi bimbang, itu semua karena pada diri kita tidak ada kepastian dan keberanian untuk mencoba dan melihat kedepan. Orang lain hanya bisa berkomentar dan memojokan, mereka seperti itu karena apa ? karena apa yang mereka jalani lebih baik dari apa yang kita alami dan kita rasakan. Sehingga mereka dapat dengan bebas mendefinisikan bahkan menilai orang tanpa membaca kondisi orang tersebut, Apa dan bagaimana yang akan terjadi dimasa datang. Semua itu hanya kita yang bisa menjawab, yang pasti jangan pernah ragu dan bimbang dalam mengambil solusi, memberi pendapat, bahkan menerima asumsi. Karena kita yang akan menjalani. Baik dan buruknya kita yang dapat, bukan orang lain. Orang lain hanya bisa melihat dan tertawa.
Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa sebenarnya hidup adalah perjalanan panjang, dimana ada jurang, badai, ombak, liku, gelombang dan Kerikil tajam yang selalu menghantui dan membayangi perjalanan hidup setiap manusia. Tetapi kita harus yakin dan percaya kebahagiaan hidup dan kesuksesan itu pasti ada, bahkan setiap manusia memilikinya. Hanya saja lumrahnya manusia kebanyakan kurang sabar dengan kenikmatan dan kebahagiaan yang sebenarnya sudah pasti ada pada masing-masing manusia. Kesabaran merupakan segalanya dalam meniti harapan dan kebahagiaan. Ada waktu dan tempatnya tersendiri. Bukan berdasarkan ego dan lingkungan kita. Kita hidup seperti pertumbuhan pohon, semakin pohon itu tinggi dan besar, semakin banyak badai dan angin yang menerpa agar sipohon tumbang. Oleh karena itu, kita butuh akar yang kuat agar tidak tumbang. Dan seandainya kita tumbang kita juga butuh sandaran agar tidak roboh atau jatuh kebawa. Namun sandaran itu harus kuat, ikhlas, lembut dan lentur. Supaya apa? jika sipohon tumbang atau ambruk sipenyandar dengan ikhlas menyambutnya dan mereka sama-sama merasa nyaman. Karena mereka sama-sama kuat. Yang jelas sipohon tulus dan sipenyandar ikhlas. Dalam artian sama-sama ada dan membutuhkan. Karena hati adalah prasasti yang tetap suci dan indah, dia tidak pernah bohong, dan dia tetap indah karena kejujuran yang selalu berkata dari lubuk hati yang paling dalam. Lakukan segala sesuatu dengan kejujuran hati. Jangan berdasarkan orang lain. Turuti kata hatimu, sebenarnya ia kunci kebahagiaanmu. “ Salam hangat dari hati selalu”.
Himpitan selalu menyapai dan membebani hidup tiap orang. Orang pun berusaha menghalau tekanan hidup itu dengan pelbagai cara misalnya dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat kita rasakan dari hasil kemajuan dan modernisasi yang dicapai. Modernisasi—di segala bidang—inilah yang menawarkan kemudahan kepada insani. Apakah kita menikmati kehidupan nyaman pada era modernisasi?
Mana kala manusia itu hidup dengan kemudahan-kemudahan yang kita rasakan dalam pelbagai bentuk seperti merasa nyaman, sejahtera, sehat, pandai, mudah mendapatkan keinginan, maka kita merasa bahagia dan senang. Akan tetapi, manusia tertadirkan bukan hanya hidup nyaman, bahagia, dan kesenangan-kesenangan dalam bentuk lain. Manusia juga tidak lepas dari penderitaan, sakit, sedih, susah, lapar, haus, kecewa, dan sebagainya.
Modernisasi dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih justru membuat kehidupan manusia lebih kompleks dan rumit yang berdampak negatif bagi manusia. Dampak negatif itu merupakan masalah yang apa bila antisipasti atau cara penyelesaiannya tidak sesuai atau tak berhasil—justru menambah persoalan baru. Kadar dan tingkat kompleksitas kehidupan yang dihadapi tiap manusia—di kota besar, desa, pantai, gunung, di lintas negara dan benua—berbeda-beda sesuai dengan lingkungan.
Orang pun berpacu dengan waktu untuk mencapai target sekaligus membebaskan diri dari himpitan hidup. Orang yang tergabung dalam suatu organisasi misalnya di perusahaan harus bekerja lebih keras agar mampu mencapai target yang ditentukan manajemen perusahaan. Segala daya dilakukan untuk mencapai tujuan.
Modernisasi pun seolah-olah menjadikan manusia sebagai fungsi dari waktu. Pencapaian angka maksimal (target) lebih mempesona daripada orang yang mencapai angka itu sendiri. Nilai luhur norma-norma kebersamaan sukar ditemukan di perusahaan atau organisasi yang selalu mematok pencapaian target secara mutlak.
Pemilik perusahaan atau organisasi seakan-akan menjadikan buruh sebagai alat produksi belaka. Apa bila pencapaian target terpenuhi, maka manajemen akan menghargainya melalui promosi jabatan atau menaikan jumlah take home pay yang bersangkutan. Namun, apa bila seseorang gagal merealisasikan targetnya maka dia terancam degradasi yang pada akhirnya menimbulkan suatu penderitaan.
Di lain pihak, seseorang yang sedang berkuasa/memimpin misalnya perusahaan, instansi pemerintah, organisasi politik, dan sebagainya, maka orang atau kelompok itu akan melakukan pelbagai upaya untuk mempertahakan posisinya. Lebih celaka lagi, jika kelompok masyaakat yang merasa lebih kuat dan mayoritas melakukan cara yang bertentangan dengan hati nurani dan kaidah umum untuk mencapai tujuan, namun mengabaikan hak-hak umum dan minoritas.
Tiap invidu yang ingin maju dan berkembang sebaiknya terus memberdayakan diri dengan berbagai cara misalnya mau mentransformasi diri. Penulis buku ini menawarkan gagasan sehingga pembaca mampu membangkitkan spirit, keberanian, nilai-nilai kehidupan, kata hati, suara batin, dan kejujuran dalam menjalankan hidup. Buku ini lebih banyak mengupas mengenai nilai-nilai hidup. Pembelajaran dari arti sesungguhnya hidup manusia, bahwa hidup ini harus menyeimbangkan antara keberhasilan duniawi dengan keberhasilan rohani.
Seandainya kita berani mencoba dan kita lebih tekun dan ulet, maka pasti yang namanya kegagalan itu tak akan pernah ada.
Semestinya kita melihat perjalanan hidup ini sebagai sebuah tantangan yang memang harus kita hadapi sehingga pada waktu tertentu kita mampu menaklukkan tantangan itu. Tantangan yang kita hadapi dalam setiap langkah merupakan cobaan dan ujian untuk melihat sejauh mana kita siap untuk masuk dan mengatasinya. Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan manusia, karena setiap insan dibekali cara untuk mengatasinya. Percaya atau tidak, persoalan apapun yang dihadapi tentulah ada jalan keluarnya. Jika kita cukup berbesar hati dan melihat permasalah dengan jernih, maka titik terang dari kemelut yang terjadi akan menemukan jalan keluar.
Kalau kita mau sedikit memberi ruang kebijaksanaan pada perjalanan dan proses hidup, kesalahan dan kegagalan bukan merupakan kesalahan fatal, semua itu adalah proses yang memang harus kiita hadapi. Masalahnya adalah, kita menutup pintu bijak dan mengatakan bahwa kegagalan merupakan kesalahan yang teramat fatal.
Baik dalam bidang ekonomi, politik, kehidupan sosial, rumah tangga dan karier, yang namanya uujian itu akan selalu ada. Entah itu dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Hidup ini merupakan dinamika dan perputaran antara keberhasilan dan ketidakberhasilan, antara prestasi dan pelajaran. Ingatlah bahwa kita akan benar-benar gagal jika tidak melihat kesalahan masa lalu sebagai sebuah pelajaran. Dan kita akan gagal total jika tidak mampu melanjutkan langkah yang telah kita tempuh dari tapak-tapak kecil yang kita mulai sejak awal. Kita perlu mengedepankan sikap berani mencoba dan melihat proses sebagai sebuah jalur yang harus ditempuh. Ini penting untuk menguji sejauh mana kita mampu menguasai medan dan tangguh dilapangan.
Banyak sekali nasehat yang kita dengarkan sepanjang hidup ini, baik berupa nasehat yang bijak maupun nasehat yang kotor. Nasehat-nasehat itu tentulah amat berguna jika kita saring dan kita ambil yang baik sesuai dengan suara nurani. Pesan moral, dorongan dan semangat yang biasanya dipesankan kepada kita merupakan butir intisari kehidupan yang amat berguna. Entah sejauh mana kita akan memanfaatkan kebijaksanaan itu kembali kepada kita lagi.
Hidup yang berhasil bisa diraih dengan cara apapun, entah dengan cara kotor atau dengan cara bersih. Yang amat kita yakini adalah bahwa langkah-langkah yang ditempuh dalam meraih kehidupan yang berhasil tersebut selalu memberi efek yang setara. Jika kita menempuh jalur hidup dengan cara-cara kotor seperti korupsi, merampok, mencuri, menjual dengan cara-cara kotor tentu saja akibatnya juga akan kita peroleh. Dan jika kita bermain dengan cara yang bersih dan terpuji, niscaya kehidupan yang bersih dan terpuji juga akan kita dapatkan. Orang bisa berkoar-koar tentang kesuksesan dan kejayaan yang mereka raih dengan cepat dan mudah, namun dibalik itu bisa saja mereka menggunakan jalan yang tidak halal.
Nikmatilah setiap perjalanan itu, setiap proses yang terjadi merupakan intisari pembelajaran hidup yang amat berharga. Hargailah prosesnya, bijaksanalah dalam setiap persoalan dan tekunlah menapaknya. Sesulit apapun kelihatannya, keuletan seseorang merupakan jawaban untuk dapat keluar dan menjadi pemenang sejati.
Salah satu kata kunci dari sebuah keberhasilan adalah karena keuletan dan kesabaran dalam menapaknya. Dalam bisnis, politik dan kehidupan sosial bermasyarakat, proses itu terjadi dari hari kehari. Proses menuju pendewasaan itu seolah tanpa batas. Dia menyentuh dari berbagai sisi dan menyentil kita agar tahu sebaiknya bagaimana bersikap.
Seberapa besar rejeki yang kita raih sama dengan seberapa ulet dan bijaknya kita melihat proses dalam kegagalan dan keberhasilan.
“Dan (ingatlah) di waktu Tuhan kalian memperingatkan. Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmati-Ku kepada kalian; dan jika kalian mengingkarinya, maka azab-Ku amat berat sekali”. (Al-Qur’an, Surat Ibrahim: 7)
“(yaitu) bagi siapa saja di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. ( Al-Qur’an, Surat Al-Muddatstsir: 37 – 38 )
“Dan jika kamu berbuat kebaikan, maka kamu berbuat kebaikan untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kamu sendiri yang akan menderita”. (Al-Qur’an, Surat Al-Isra: 7)
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Al-Qur’an, Surat Ar-Ra’d: 11)
“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain dari apa yang telah diusahakannya”. (Al-Qur’an, Surat An-Najm: 39)
“Dan bagi masing – masing orang memperoleh derajat – derajat ( seimbang ) dengan apa yang dikerjakannya”. (Al-Qur’an, Surat Al An’aam : 132)
“Dan bahwasanya Dia (Allah) yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan”.
( Al-Qur’an, Surat An-Najm: 48 )
“Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kamu hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan – akan kamu mati esok”. (Hadits Riwayat Turmudzi)
“Sesungguhnya Allah Suka Melihat wujud nikmatNya atas hambaNya”. (Hadits Riwayat Turmudzi)
Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh, jika salah seorang di antara kalian berangkat pagi untuk mencari kayu yang ia panggul di atas punggungnya, lalu ia menyedekahkannya dan tidak memerlukan pemberian manusia; maka itu adalah lebih baik daripada ia meminta kepada seseorang, baik orang lain itu memberinya ataupun tidak. Karena, tangan yang di atas (yang memberi) lebih utama daripada tangan yang di bawah (yang menerima). Dan mulailah dengan orang yang engkau tanggung”. (Hadits Riwayat Abu Hurairah)
Pernahkah kamu mengalami kegagalan ?
Apakah kamu mengalaminya lebih dari satu kali ?
Pernahkah kamu mengulang sebuah kesalahan besar yang sama ?
Mayoritas atau bahkan mungkin semua orang akan menjawab ”YA” untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Kegagalan atau kesalahan yang tercatat di dalam perjalanan hidup kita adalah bagai sebuah buku pelajaran dimana kita bisa belajar banyak hal darinya.
Setiap tindakan membutuhkan landasan sebuah visi atau gambaran dari tujuan yang ingin kita capai. Begitu juga dengan belajar. Kita harus mempunyai tujuan dari setiap aktivitas belajar kita.
Salah satu aspek penting dalam belajar adalah adanya improvement atau peningkatan. Memang, dengan belajar tujuan kita adalah adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan, atau apa saja obyek belajar kita dari kondisi kita sebelum belajar.
Improvement atau peningkatan tentunya memiliki konotasi positif menuju ke kondisi, keadaan, atau tingkat yang lebih baik. Ini juga merupakan paradigma yang umum dipahami oleh masyarakat bahwa tujuan belajar adalah untuk mendapatkan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.
Jika kita berorientasi pada hasil, maka paradigma di atas memang tidak salah, karena improvement adalah sebuah konsekuensi logis yang akan kita terima jika kita belajar sesuatu, sudah hukum alamnya memang demikian. Tetapi jika kita berorientasi pada proses, maka paradigma tujuan belajar untuk menjadi lebih baik bisa menjebloskan diri sendiri dalam sebuah kegagalan.
Paradigma di atas akan menghasilkan sebuah rasa takut, yaitu rasa takut terhadap kegagalan. Coba kita bayangkan apabila seseorang telah mempelajari sesuatu sampai 99 kali dan kemudian mengalami kegagalan pada saat belajar yang ke 100 kali nya. Dengan paradigma di atas, maka akan timbul sikap untuk apa gunanya telah belajar sebanyak 99 kali kalau hanya untuk gagal pada usaha yang ke-100.
Bagaimana jadinya jika sebelum belajar seseorang sudah takut untuk mencoba melakukan sesuatu karena adanya perasaan takut gagal, yang berarti takut tidak bisa menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya ? Dalam belajar kita harus sering melakukan eksperimen / percobaan. Terlepas dari apa yang kita pelajari, maka kita harus berani mencobanya. Lebih baik mencoba dan gagal daripada gagal untuk mencoba (karena rasa takut terhadap kegagalan). Tanpa melakukan percobaan, maka kita tidak pernah tahu bagaimana hasil dari apa yang akan kita coba.
Jadi, aspek pertama dari paradigma belajar yang kita dapatkan adalah jangan takut untuk bereksperimen / melakukan percobaan.
Belajar akan selalu diawali dengan melakukan sebuah percobaan. Anak kecil yang belajar untuk berjalan akan mengawalinya dengan melakukan percobaan untuk berdiri dan melangkahkan kakinya. Awal yang sangat sulit untuk anak kecil yang belajar berjalan. Tidak seimbang dan kemudian jatuh adalah sebuah hal yang biasa. Karena cara pertama yang dia coba untuk belajar berjalan gagal, maka dia akan berusaha mencari cara yang lain dan mencobanya, misalnya dengan berpegangan pada suatu benda sehingga bisa menjaga keseimbangannya. Bisa saja akan banyak sekali percobaan-percobaan yang dilakukan si anak sampai kemudian bisa berjalan dengan baik. Dari berbagai percobaan-percobaan yang dilakukan tentunya si anak mempunyai cara belajar favorit yang menurutnya sangat sesuai dengan dirinya dan bisa membuatnya berhasil untuk belajar berjalan, dan itu semua diketahui setelah melakukan banyak percobaan.
Aspek kedua dari paradigma belajar adalah perbanyaklah melakukan percobaan. Jangan hanya fokus pada satu percobaan saja. Dengan kata lain kita harus dinamis, harus selalu mengeksplor setiap kemungkinan tindakan atau percobaan yang bisa kita lakukan dalam aktivitas belajar kita. Banyak mencoba secara logika memang kemungkinan akan menghasilkan banyak kegagalan. Tapi justru disinilah letak proses belajar yang sesungguhnya. Dengan banyak kegagalan, maka kita akan lebih banyak lagi belajar. Dengan lebih banyak belajar kita akan lebih banyak tahu. Dengan semakin banyaknya yang kita ketahui maka akan menjadikan kita lebih aware terhadap hal-hal yang bisa menyebabkan kegagalan. Dengan menjadi lebih aware maka akan memperkecil kemungkinan kita melakukan kesalahan yang sama dan memperkecil kemungkinan kita untuk gagal.
Jadi ada dua aspek penting dalam paradigma belajar kita yaitu :
•Jangan takut untuk mencoba
•Jangan hanya fokus terhadap satu percobaan, tetapi perbanyaklah percobaan walaupun itu akan menghasilkan banyak kegagalan.
Ini bukanlah mekanisme Try and Error. Jika kita menggunakan paradigma belajar yang lama, yaitu selalu menjadi lebih baik dalam setiap pembelajaran, memang yang akan kita dapatkan adalah mekanisme Try and Error. Dengan paradigma ini maka setiap kali kita mencoba dan selalu mengalami kesalahan dan kegagalan, maka dalam beberapa kali percobaan semuanya akan berakhir.
Ini adalah sebuah mekanisme sukses yang memandang bahwa tujuannya adalah untuk selalu belajar dalam setiap pembelajaran. Keberhasilan kita belajar dari kegagalan-kegagalan yang pernah kita dapatkan adalah prinsip dari kesuksesan itu sendiri.
Jadi, ada pergerseran paradigma belajar yang harus kita lakukan, yaitu dari ”selalu menjadi lebih baik dalam setiap pembelajaran” menjadi ”selalu belajar dalam setiap pembelajaran”.
Kegagalan adalah merupakan kunci untuk belajar. Kalau kata Albert Einstein : ”Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tidak akan pernah mencoba sesuatu yang baru. ”
Lingkungan sebagai daya ungkit terbesar dalam membantuk kesuksesan kita. Karena dari lingkungan kita bisa membangun kepercayaan diri yang kuat untuk diri kita, dan karena lingkunganlah kita bisa menjadi seorang yang besar.
Seorang diva besar seperti Krisdayanti tidak akan menjadi besar jika lingkungannya tidak mendorong dirinya menjadi besar. Seorang bintang sepak bola David Beckham-pun tidak akan bisa melambung namanya jika lingkungannya tidak mendukung dia untuk tetap bertahan dalam posisi besar.
Dari sini bisa dikatakan sebuah lingkungan memiliki sebuah kekuatan besar untuk memotivasi seseorang bertindak lebih hebat daripada sebelumnya. Saya masih ingat ketika seorang pengusaha besar seperti om Liem bisa menjadi seorang yang sukses dan besar seperti saat ini.
Beliau tumbuh dari sebuah lingkungan yang keras dan merantau ke negri kita untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Dengan berbekal keinginan keras untuk tidak terjebak pada situasi dan lingkungan kemiskinan, beliau lantas mengupayakan sekuat tenaga untuk menjadi seorang yang besar dan hebat dalam dunia bisnis.
Itu dari dunia bisnis, dari dunia menulis kita punya sosok Andrea Hirata yang terpanggil hatinya untuk kembali mengangkat lingkungannya di masa lampau untuk bisa dikuak dalam sebuah novel. Dan pada akhirnya kita bisa membaca novel, bahkan menonton filmnya.
Semua rangkaian keberhasilannya karena memang mereka sadar lingkunganlah yang membuat mereka berhasil dan kuat seperti saat ini. Sekarang bagaimana dengan lingkungan kita? Apa yang salah dari lingkungan kita? Mengapa kita selalu mengeluh di lahirkan dalam lingkungan yang tepat?
Padahal jika kita mau meng-compare lingkungan kita dengan lingkungan mereka mungkin akan jauh lebih nyaman ketimbang mereka. Nah, kalau sudah begini apa yang salah dari diri kita?
Ada dua permasalahan mendasar ketika kita tidak berhasil seperti yang orang sukses rasakan. Masalah pertama adalah mengeluh, terlalu banyak mengeluh hanya akan membuat kita fokus pada kegagalan-kegagalan yang kita kerjakan, saking fokusnya terhadap kegagalan kita menjadi terlena dengan situasi menyalahkan orang lain dan melupakan tujuan besar kita.
Masalah kedua yang membuat kita tidak seperti mereka, karena kita tidak mau menjadikan lingkungan sebagai pelajaran kehidupan kita. Kita hanya menuntut lingkungan kita lebih baik daripada kemarin, tanpa berpikir bagaimana merubah itu menjadi baik. Jadi wajar saja bila kita tidak bisa maju seperti mereka.
Kalau sudah begini apa yang harus kita lakukan agar semua tujuan kita berhasil? Jawabnya hanya satu, “Berubah.”
Kita butuh sebuah perubahan yang mendasar, dan ini dimulai dari keputusan. Jadi sudah saatnya kita memutuskan, tetap dengan situasi yang ada atau berubah untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan….
Senin pagi kemarin saya melakukan perjalanan ke Athena dan sekitarnya. Naik KA cepat penuh sesak dengan turis dari berbagai negara. Bisa jadi turis suka ke Yunani sebab negara ini sejak zaman beheula hingga masuk abad 20 tetap saja tampilan kuno dan bersahaja. Walaupun harga makanan dan minuman melambung - turis ke Yunani tetap ramai. Kemarin di teve heboh soal harga Greek salad yang dijual ke turis seharga 12 euro, padahal harga normal hanya 5 euro. Hmm begitulah setiap tahun pasti ada kabar tentang turis yang complain.
Bekal perjalanan selalu sebuah buku untuk bacaan dalam Metro. Mau bawa bekal makanan dan minuman tidak mungkin. Karena di semua stasiun kereta api dilarang makan dan minum, apalagi merokok. Tidak heran jika kondisi tempat umum di Yunani bersih dan tidak ada satu sampahpun terlihat. Melihat pemandangan melalui kaca kereta api cepat sudah ratusan kali dan panorama yang tampak masih belum berubah. Saya memilih buku yang kecil agar muat dimasukkan dalam tas bahu yang mungil. Entah sudah berapa kali saya baca The Power of Spritual Intellligence; Tony Buzan.
Yang menarik dalam buku tersebut adalah bagian yang menulis tentang value atau nilai. Ingatan saya kembali ke dua puluh tiga tahun silam ketika diberi mata kuliah pengantar sosiologi – termasuk topik bahasan tentang nilai.
Jika berbicara tentang nilai spiritual tentu saja yang muncul adalah kejujuran, kebenaran, keberanian, kesederhanaan, kasih sayang, kerjasama, kebebasan, damai, cinta, pengertian, sedekah, tanggungjawab, toleransi, integritas, kemurnian, kesatuan, bersyukur, humor, persisten, sabar, adil, kesetaraan dan harmoni.
Nilai sebagai standar moral dan perilaku individu dimana pun dia berada. Individu sebagai manusia yang terbentuk dari susunan 200 tulang-belulang. Yang punya jantung berdetak memompa darah sebanyak 36 juta kali setiap tahunnya selama dia hidup. Mahluk unik yang memiliki milyun sel otak yang setara dengan 167 kali dari jumlah populasi bumi.
Dengan keunikannya tersebut manusia punya kemampuan yang tak terbatas untuk mengeksplorasi bumi. Bumi sebagai planet yang juga paling unik dan indah. Bumi dianggap sebagian besar otak manusia sebagai surga. Hingga muncullah individu yang atheis dan jauh dari konsep spiritual. Spiritus berasal dari bahasa Latin yang artinya nafas. Bisa dihubungkan juga dengan spirtus jenis alkohol untuk menyalakan lampu petromak (he he he).
Sepuluh tahun lalu saat saya masih bekerja di Jakarta terlibat percakapan dengan seorang pejabat di kantor imigrasi Jakarta Selatan. Ngalor-ngidul mempersoalkan masalah izin tinggal anak asing yang menetap di Jakarta, percakapan kami sampai pada masalah universal.
Pejabat tersebut sempat membuat saya kaget dengan pernyataannya “Saya sering berpikir, bahwa sebenarnya yang dimaksud surga itu adalah dunia ini. Ya di dunia inilah sebenarnya surga. Coba anda pikirkan di dunia tersedia berbagai macam jenis makanan lezat, minuman lezat dan keindahan serta kenyamanan. Tidak ada planet lain yang punya isi seperti bumi. Jika disebut ada surga di akhirat nanti, maka saya tidak bisa membayangkannya. dst….”
Saya tidak menjawab pernyataan, saya tidak mendebatnya dan tidak memberi komentar apapun. Saya cukup sebagai pendengar saja. Hingga saya memutuskan untuk tidak meneruskan mengurus izin tinggal anak saya. Saya hanya berpikir bahwa begitu mudahnya Allah SWT membuat seseorang disesatkan dan mudah juga bagi-Nya memberi petunjuk bagi yang dikehendaki-Nya.
Kembali berbicara masalah nilai yang berhubungan dengan moral. Astronot wanita pertama yang menjelajah angkasa asal Rusia; DR Valentina Tereshkova yang melakukan 48 kali orbit keliling bumi pada 16 Juni 1963. Sepulangnya dari jelajah angkasa dia berkata “Masalah besar manusia adalah polusi, lingkungan, melindungi bumi dari kerusakan. Juga kesehatan spiritual anak-anak kita. Bagaimana orangtua membimbing anak agar punya moral iba dan rasa belas kasih.”
Bersambung..
Masalah belas kasih dan perasaan iba sama halnya dengan perasaan bahagia, menurut para ahli ada hubungannya dengan faktor keturunan atau gen. Banyak contoh di dunia ini yang bisa dibuat sebagai teladan. Ayah saya pernah memberi nasi kapau bungkus bagiannya kepada kami anak-anaknya, sebab nasi yang dibelinya lezat sekali kami minta tambah. Walau setiap anak sudah mendapat masing-masing bagiannya, kasih sayang ayah melebihi rasa laparnya. Hal yang sama saya lakukan untuk anak-anak saya. Saya juga memberikan bagian saya jika anak-anak meminta tambah hidangan yang tersedia sudah habis.
Rasa kasihan, iba, adil, jujur dan nilai yang saya sebut diatas tadi ternyata semakin memudar dalam kehidupan masyarakat di mana saja. Saya membaca beberapa posting di milis-milis baik dalam maupun luar negeri. Milis dalam negeri sendiri yang sering menampilkan perasaan tidak toleransi. Sebuah milis agama memposting topik yang penuh kebencian terhadap suatu kelompok. Hujatan terhadap pengikut manhaj yang lain dan merasa manhajnya sendiri yang paling benar. Sebaliknya saya membaca milis luar negeri - manhaj sama dengan yang saya pilih di Indonesia, isi postingannya berbeda sekali. Hampir tidak pernah ada anggotanya yang menulis postingan isinya marah, mencela ataupun membicarakan keburukan kelompok lainnya. Rasulullah saw bersabda, “Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam).” (HR Bukhari)
Jika saya boleh berpendapat bahwa kelompok-kelompok keagamaan di Indonesia sudah mulai lupa pada inti sebenarnya nilai spiritualnya. Kebencian dan kemarahan merupakan dua sifat yang saling terikat. Hingga disebutkan dalam hadist bahwa perang terbesar adalah melawan hawa nafsu. “Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Malik).
Hawa nafsu dan penyakit hati selalu bergumul setiap hari menyerang setiap manusia dan fitrahnya sebagai pemimpin alias khalifah di dunia ini. Misalnya saja sifat iri. Jangankan iri yang timbul ditujukan untuk individu lain, bahkan antara suami dan istri pun sangat sering timbul rasa iri satu-sama lainnya. Penyakit hati ini yang menyebabkan banyak manusia merasa hidupnya tidak bahagia. Padahal bahagia itu sangat mudah. Lenyapkan rasa iri dari hati dan pikiran Anda, kemudian timbulkan rasa bersyukur dengan apa yang telah Anda miliki dan yang sedang Anda idamkan. Yakin bahwa apa yang Anda idamkan akan terwujud.
Namun ada satu hal yang perlu Anda ingat, bahwa iri dan keadilan sangat tipis perbedaannya. Banyak individu yang memperjuangkan keadilan, bukan berarti mereka iri akan tetapi mereka berjuang menentang kezaliman, ketamakan dan sifat semena-mena. Sebab hanya syaitan saja yang membisikkan pikiran jahat pada manusia dan sudah digariskan oleh Allah SWT bahwa manusia di dunia ini akan menjadi musuh pada sebagian yang lain (Al A’raaf 20-24).
Kemarin saya mendengar kisah seorang istri melalui radio. Seorang wanita Yunani yang kaget karena menjumpai fakta bahwa suaminya yang sudah cukup umur selingkuh dengan wanita yang jauh lebih muda darinya. Mungkin untuk mengusir gundahnya, istri tersebut pergi ke Swiss jalan-jalan. Setibanya di Swiss, dia tiba-tiba tertarik untuk melakukan operasi plastik, lifting (pengencangan kulit). Bukan hanya operasi plastik wajah saja, tetapi dia juga melakukan operasi dada dan anggota tubuh lainnya. Kemudian dia belanja berbagai baju keluaran designer terkenal. Hingga dia menghabiskan uang sejumlah 550.000 euro.
Sepulangnya dia di Yunani, suaminya juga kaget sebab mendapati tagihan bank yang sangat besar. Sebab istrinya menggunakan kredit card, cek dan semua pembayaran atas nama suaminya. Akibat kegundahan istri yang mengetahui suami nyeleweng, dia melarikan diri dengan jalan shopping dan traveling. Bukannya mengatasi masalah malah timbul masalah baru dalam perkawinan mereka. Suami berubah menjadi musuh bagi istrinya melalui pengadilan.
Di lain pihak, Madonna yang sudah berusia setengah abad lebih. Dia bosan pada suaminya- bercerai dan tertarik untuk menikahi anak muda usia 20 tahun seorang model. Jesus Luz yang beda usia 23 tahun dari Madonna diajak oleh penyanyi terkenal dan tajir tersebut untuk menjadi pengikut Kaballah. Nilai spiritualnya tetap dijaganya walaupun persepsi dunia tindakan Madonna tersebut ‘rese’ atau risih. Karena biasanya selebritis kakek-kakek yang berhubungan dengan remaja gadis belasan tahun (terlepas dari sebutan pedofile).
Di belahan dunia lain, seorang Ibu yang sudah belasan tahun menikah mengetahui suaminya memang hobi selingkuh. Sejak awal suami mulai bekerja sebagai pegawai negeri hingga kini mendapat jabatan yang tinggi dan fasilitas tunjangannya yang sudah melebihi dari kebutuhan mereka. Si Ibu ini tidak stress dan bingung ataupun kaget ketika mengetahui kebohongan-kebohongan suaminya yang sudah ratusan kali punya cem-ceman. Ibu tersebut tidak lantas kalang kabut minta cerai, atau mendamprat wanita idaman lain suaminya. Dia pergi ke ahli agama, mengikuti pengajian, mengurusi anak yatim, mengikuti kegiatan charity dan banyak kegiatan yang berhubungan dengan kemanusiaan. Hingga akhirnya, doa Ibu tersebut dikabulkan. Suaminya mengaku salah dan bertobat tidak selingkuh lagi. Sebab pada akhirnya suaminya sadar bahwa semua cem-cemannya hanya mencari materi dan numpang nebeng kemudahan hidup darinya.
Menjaga kesehatan spiritual anak-anak adalah dengan jalan mencontohkannya dalam tindakan sehari-hari. Tidak mungkin seorang anak akan rajin mengaji jika ayahnya sibuk di kantor dan meeting. Tidak mungkin seorang anak akan khusuk sholatnya jika Ibunya sibuk meng-update status di facebook dan anaknya disuruh sholat sendirian. Hidup ini mudah dan indah jika saja semua berpegang pada ajaran agama dan nilai spiritual yang dijaga melalui membaca kitab suci masing-masing agama. Bukan melarikan diri ke mall, curhat sama teman membuka aib suami dan keluarga sendiri atau bahkan plesiran ke luar negeri menghamburkan uang. Bahwa siapa saja yang mengadakan perbaikan dijamin pasti bahagia. Bukan membuat kerusakan.
Mengajarkan anak berdoa sejak kecil juga merupakan penanaman nilai spiritual. Pengalaman saya sejak kecil, setiap saya menginginkan sesuatu selalu tercapai. Walau harus menunggu beberapa waktu, bahkan hingga puluhan tahun. Alhamdulillah tidak ada doa-doa saya yang tidak dikabulkan oleh Allah SWT. Sebab jika belum dikabulkan artinya Tuhan menginginkan saya agar terus berdoa supaya suatu waktu terkabul. Sehingga mengucapkan doa dengan lisan dan hati tidak harus bosan dengan doa yang sama dan yang itu-itu juga. Karena sifat bosan juga termasuk penyakit hati ( he he he makanya jangan sampai bosan sama istri atau suami). Selain itu doa yang saya minta tidak doa yang aneh-aneh, saya meminta hal-hal yang wajar dan untuk kebaikan dunia dan akhirat keluarga.
Mengucapkan salam ketika bertemu dan masuk rumah atau keluar rumah cukup mudah ditanamkan pada anak. Mengutip ayat di surah Al Araaf bahwa ucapan salamun alaikum adalah ucapan untuk penghuni surga. Maka anak-anak dengan senang hati mengucapkannya setiap hari. Setiap saya bertemu atau berbincang melalui telepon dengan Ustad asal Lebanon, beliau selalu menekankan bahwa saya harus banyak waktu untuk anak-anak. Bahkan diingatkan agar saya jangan menulis melulu. Si bungsu sudah bisa protes kalau saya minum tidak habis di gelas, maka dia mengingatkan saya harus menghabiskannya agar tidak mubazir. Tentu saja hal ini membuat saya senyum sendiri, sebab ketika berada di Yogya- jika bertamu minuman yang dihidangkan di gelas tidak harus dihabiskan semuanya.
Bersambung…
Ingatkah ketika masih kecil kamu jatuh dan terluka?
Ingatkah apa yang dilakukan ibumu untuk meringankan
rasa sakit? Ibuku, Grace Rose, selalu menggendongku,
membawaku ke tempat tidurnya, mendudukkan diriku, lalu
mencium “aduh”-ku. Lalu ia duduk di tempat tidur di
sampingku, meraih tanganku dan berkata, “Kalau sakit,
remas saja tangan Ibu. Nanti akan kukatakan Aku sayang
kamu.” Sering aku meremas tangannya, dan setiap
kali, tak pernah luput, aku mendengar kata-kata,
“Mary, Ibu sayang kamu.”
Kadang-kadang aku pura-pura sakit hanya supaya aku
memperoleh ritual itu darinya. Waktu aku lebih besar,
ritual itu berubah, tapi ia selalu menemukan cara
untuk meringankan rasa sakit dan meningkatkan rasa
senang yang kurasakan dalam berbagai bagian hidupku.
Pada hari-hari sulit di SMU, ia akan menawarkan
sebatang cokelat almond Hershey kesukaannya saat aku
pulang. Semasa usiaku 20-an, Ibu sering menelepon
untuk menawarkan piknik makan siang spontan di Taman
Eastbrook untuk sekadar merayakan hari cerah dan
hangat di Wisconsin. Kartu ucapan terima kasih yang
ditulisnya sendiri tiba di kotak pos setiap kali ia
dan ayahku berkunjung ke rumahku, mengingatkanku
betapa istimewanya aku baginya.
Tapi ritual yang paling berkesan adalah genggamannya
pada tanganku saat aku masih kecil dan berkata, “Kalau
sakit, remaslah tangan Ibu dan akan kukatakan aku
sayang kamu.”
Suatu pagi, saat aku berusia akhir 30-an, setelah
orangtuaku berkunjung pada malam sebelumnya, ayahku
meneleponku di kantor. Ia selalu berwibawa dan jernih
saat memberi nasehat, tapi aku mendengar rasa bingung
dan panik dalam suaranya. “Mary, ibumu sakit dan aku
tak tahu harus berbuat apa. Cepatlah datang kemari.”
Perjalanan mobil 10 menit ke rumah orangtuaku diiringi
oleh rasa takut, bertanya-tanya apa yang terjadi pada
ibuku. Saat aku tiba, Ayah sedang mondar-mandir di
dapur sementara Ibu berbaring di tempat tidur. Matanya
terpejam dan tangannya berada di atas perut. Aku
memanggilnya, mencoba menjaga agar suaraku setenang
mungkin. “Bu, aku sudah datang.”
“Mary?”
“Iya, Bu.”
“Mary, kaukah itu?”
“Iya, Bu, ini aku.”
Aku tak siap untuk pertanyaan berikutnya, dan saat aku
mendengarnya, aku membeku, tak tahu harus berkata apa.
“Mary, apakah Ibu akan mati?”
Air mata menggenang dalam diriku saat aku memandang
ibuku tercinta terbaring di situ tak berdaya.
Pikiranku melayang, sampai pertanyaan itu terlintas
dalam benakku: ‘Jika keadaannya terbalik, apa yang
akan dikatakan Ibu padaku?’
Aku berdiam sejenak yang terasa seperti jutaan tahun,
menunggu kata-kata itu tiba di bibirku. “Bu, aku tak
tahu apakah Ibu akan mati, tapi kalau memang perlu,
tak apa-apa. Aku menyayangimu. “
Ia berseru, “Mary, rasanya sakit sekali.”
Lagi-lagi, aku bingung hendak berkata apa. Aku duduk
di sampingnya di tempat tidur, meraih tangannya dan
mendengar diriku berkata, “Bu, kalau Ibu sakit,
remaslah tanganku, nanti akan kukatakan, aku sayang
padamu.”
Ia meremas tanganku.
“Bu, aku sayang padamu.”
Banyak remasan tangan dan kata “aku sayang padamu”
yang terlontar antara aku dan ibuku selama dua tahun
berikutnya, sampai ia meninggal akibat kanker indung
telur.
Kita tak pernah tahu kapan ajal kita tiba, tapi aku
tahu bahwa pada saat itu, bersama siapa pun, aku akan
menawarkan ritual kasih ibuku yang manis setiap kali,
“Kalau sakit, remaslah tanganku, dan akan kukatakan,
aku sayang padamu.”
Catatan :
Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang
pada orang yang anda cintai adalah dengan memegang
dan meremas tangannya dengan lembut Tindakan itu
kadangkala mengandung makna dan arti yang teramat
dalam yang hanya dapat dipahami antara anda dan orang
yang anda cintai…… …….
By : janti ( Soulful )
Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, “Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar.”
Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. “Aha, Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian,” kata kakek.
Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. “Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali pernikahan’. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia.
Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini,” kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.
Lalu nenek melanjutkan, “Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita.” Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. “Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi…. kosong. kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek.”
Nenek segera menimpali, “Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apa pun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua.”
Pembaca yang budiman,
Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.
Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.
Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik.
Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia.
Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin saja anda mengalami
pengalaman buruk yang tak mengenakkan, maka keburukan itu hanya
karena anda melihat dari salah satu sisi mata uang saja. Bila anda
berani menengok ke sisi yang lain, anda akan menemukan pemandangan
yang jauh berbeda.
Anda tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau menampakkan
wajah yang ceria. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya
terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit
untuk dipandang dengan mengerutkan alis.
Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir
menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali
keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa
tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes air tahu,
suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk
gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan
rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur.
Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari setiap
tetes air yang anda temui di selokan rumah anda?
Di kesempatan ini saya kembali mencoba menjawab pertanyaan lain yang masuk. Mohon maaf sekali lagi bagi sahabat yang pertanyaannya belum juga saya jawab. Pertanyaan kali ini datang dari pembaca buku saya, “Born To Be A Champion”, yang menanyakan beberapa hal sebagai berikut…
***
Assalamu’alaikum…
Saya ucapkan selamat untuk Mas Agus atas diterbitkannya buku perdana Mas Agus.
Saya kasih nilai 9 dech untuk bukunya. Bagus Mas…! Setelah saya baca bukunya, saya jadi merenung, tersadar bahwa selama ini saya terkadang kurang bersyukur dengan apa yang sudah Allah kasih ke saya. Saya sering mengeluh jika apa yang saya inginkan tidak kesampaian atau tidak sesuai dengan yang saya inginkan.
Saya mau tanya:
1. “Born To Be A Champion” mungkin tepat untuk Mas Agus, karena Mas Agus dilahirkan sebagai orang cerdas. Mas Agus bisa dengan mudah mendapat juara kelas, juara pidato, juara cerdas cermat, murid teladan, sukses di karier, cita-cita tercapai dan sebagainya. Mas Agus dikaruniai otak yang cerdas dari Tuhan sejak lahir. Bagaimana dengan orang yang dilahirkan dengan isi otak yang pas-pasan, biasa, lumayan? Mereka tidak punya “prestasi” apa pun? Bagaimana menumbuhkan semangat juara untuk mereka?
2. Saya terkadang suka pesimis dengan diri sendiri, apa saya bisa ya melakukan itu? Apa saya bisa ya mengerjakan ini? Saya sangat ingin meyakinkan diri saya sendiri untuk PD, kalau orang lain bisa kenapa saya nggak? Kadang ketika rasa PD sudah muncul, tiba-tiba hilang lagi.
3. Bagaimana menemukan bakat dan talenta kita? Saya sampai sekarang nggak tahu apa sich bakat atau talenta yang saya miliki. Saya suka hal yang berkaitan dengan teknologi, saya senang berteman dengan banyak orang; menurut Mas Agus apakah itu bakat atau talenta saya?? Apakah bakat atau talenta yang kita punya bisa menentukan jenis pekerjaan yang cocok untuk kita?? Apakah kita perlu meminta bantuan orang lain untuk mengetahui bakat atau talenta kita, karena biasanya kita nggak tahu apa yang menjadi kebiasaan kita, tapi malah orang lain yang tahu tingkah laku atau kebiasaan kita?
Segitu dulu dech pertanyaan saya, kalau lain waktu saya pengin sharing lagi, boleh kan Mas…?
Terima kasih Mas Agus… Sukses…!
Ditunggu buku berikutnya…!
Wassalamu’alaikum…
Dari U – di kota P
***
Pertama kali membaca email Mba U, saya merasa terharu. Terima kasih atas apresiasinya yang semakin menambah rasa syukur saya. Senada dengan apa yang disampaikan oleh sahabat pembaca saya di Surabaya, Semarang, Medan dan lainnya melalui sms, email, maupun comment di blog ini. Ada dari mereka yang sampai berkata, “Saya sampai merinding membaca buku anda… (dan seterusnya)”, padahal salah seorang mentor saya berpesan, “Karya kita yang sekarang adalah yang terbaik untuk saat ini, walaupun lima atau sepuluh tahun yang akan datang kita akan menertawakannya.” Jadi, meskipun masih jauh dari sempurna, saya harus bersyukur karena baru sampai seperti itulah kemampuan saya dalam berkarya. Yang terpenting, saya harus terus belajar dan meningkatkan kemampuan diri saya sehingga karya saya yang selanjutnya lebih baik dari yang ada sekarang. So, jangan pernah terlena ketika pujian datang…
Jika apa yang saya tulis bermanfaat bagi yang membacanya, semoga itu semua menjadi amal jariyah bagi saya dan jika ada pahalanya, semoga mengalir juga ke kedua orangtua dan guru-guru saya.
***
Menjawab pertanyaan pertama, ini koq saya dikatakan “dilahirkan sebagai orang cerdas” segala… (tersenyum, terharu). Ini ada yang memuji… cewek pula, hehehe… Saya jadi terbang, membentur langit-langit rumah, gedebuk… jatuh lagi (kepala benjol terbentur benda keras di atas…). Terima kasih juga telah menyebut prestasi-prestasi saya yang hampir terlupakan karena itu tidaklah ada apa-apanya, namun harus disyukuri betul-betul. Hmm, tahu dari mana? [Curiga sepertinya cewek yang satu ini pernah satu sekolah dengan saya…]. Hehehe… kapan-kapan kita reuni yuk… Terima kasih sudah mau membaca tulisan saya yang tanpa makna.
Sukses di karier… Alhamdulillah berkat doa anda, meskipun saya belum merasa sukses…, dan saya juga masih dalam taraf belajar, dan saya merasa selalu harus bersyukur apa pun pekerjaan saya saat ini adalah sebagai rangkaian proses pembelajaran yang harus saya lewati karena saya akan terus belajar meskipun ketika itu bangku sekolah telah saya tinggalkan. Sekali lagi terima kasih tak terhingga, ini juga merupakan doa yang amat mulia, karena seperti yang lain—saya juga tentu punya tujuan hidup dan ingin meraih kesuksesan di sisa umur saya ini agar bisa memperoleh ridha dan ampunan Allah SWT.
Cita-cita tercapai… Amin! Semoga pembaca yang budiman dan para malaikat juga meng-amini-nya. Alhamdulillah, masih ada orang baik yang mau mendoakan saya dengan begitu indahnya.
Saya mulai menjawab ya…
Sebenarnya saya terlahir sama dengan anak-anak yang lain, juga seperti anda. Saya pikir tidak otomatis cerdas. Ketika saya mengikuti tes IQ, ternyata IQ saya biasa-biasa saja tuh. Tidak jenius, juga tidak idiot seperti…[Hehehe… mendengar kata “idiot”, beberapa teman di sebelah saya langsung melotot, seperti curiga tangan saya akan menunjuk salah satu dari mereka].
Mungkin saya bisa cerita seperti ini. Saya terlahir sebagai anak pertama di sebuah keluarga yang sangat sederhana. Masa kecil saya adalah masa-masa yang penuh keprihatinan. Orangtua saya menyekolahkan dengan susah payah. Saya tidak akan menceritakan detailnya di sini, karena jika ibu saya tahu, mungkin beliau jadi sedih. Pendek kata, masa kecil saya tidaklah sebahagia seperti anda semua. [Bagi yang terlahir di tengah keluarga berkecukupan, semua ada, dan sekolah pun diantar mobil—semoga lebih bersyukur lagi].
Walaupun demikian, saya sejak kecil berusaha (berharap mendapat hidayah dari-Nya) untuk menjadi anak yang baik (menurut saya), seperti rajin shalat dan mengaji, rajin membantu ibu bersih-bersih rumah, cuci piring dan sebagainya, rajin puasa Senin – Kamis, rajin belajar dan kebiasaan-kebiasaan yang mencerminkan bahwa saya ini anak prihatin dari keluarga yang serba kekurangan, namun ingin memiliki masa depan yang lebih baik. Jika saya mengenang perjuangan orang tua–terutama ibu–dalam menyekolahkan saya, maka saya harus rela menitikkan air mata karena sampai sekarang saya belum bisa membalas pengorbanan mereka yang tiada terkira (saya pikir tidak akan pernah bisa membalasnya hingga impas). Meskipun demikian, saya bersyukur menjadi anak mereka karena saya haqqul yakin rizki yang orangtua saya peroleh untuk menafkahi hidup saya dan adik-adik itu 100% halal, sehingga darah yang mengalir di pembuluh nadi dan vena saya adalah darah yang bersih dari barang haram. Orangtua saya sangat jujur dan qona’ah (menerima) apa yang dikaruniakan Allah untuk mereka. Dan untuk ibu, maka saya berhak menjulukinya “ibu terbaik sedunia”, paling tidak bagi saya—anaknya.
Melihat kenyatan di atas, maka ketika itu hanya ada satu cara bagi saya untuk bisa membahagiakan mereka, yakni dengan menjadi anak yang “baik”. Baik di sini adalah dengan cara berprestasi di sekolah, karena hanya itu yang bisa saya lakukan saat itu. Maka ketika itu saya harus rela menjadi kutu buku dan menjadi pelajar sejati yang memiliki motto “tiada hari tanpa belajar”. Saya benar-benar fokus di dunia pendidikan yang sedang saya tempuh di mana prestasi yang paling diakui adalah prestasi akademik. Hasilnya adalah pengalaman belajar di mana saya pernah menjadi bintang kelas 27 kali—sempurna sejak kelas 1 SD hingga kelas 3 SMP hingga menjadi Pelajar Teladan yang mewakili kabupaten bertempur di tingkat propinsi. Pernah ketika seorang guru SMP saya datang ke rumah, beliau hampir tidak percaya dengan keadaan / latar belakang keluarga saya [kisah prestasi yang tiada bermakna, diceritakan semoga untuk bisa menyemangati saja... lha wong nggak punya cerita yang betul-betul menarik sich...].
Semua itu bukan begitu saja turun dari langit, namun melalui kerja keras dan perjuangan—tidak saja secara lahir, tapi juga batin. Dan saya merasa sangat bersyukur ketika menerima rapor atau pada acara perpisahan sekolah, saat-saat indah tatkala melihat ibu saya tersenyum bahagia karena bisa maju ke depan untuk menerima penghargaan atas prestasi yang saya dapatkan (ada kasih Tuhan saya rasakan di sana). Prestasi yang didapat karena tekad dan perjuangan keras, yang harapannya agar saya bisa sedikit mengobati segala lelah, kepenatan dan jerih payah yang mereka (kedua orangtua saya) pertaruhkan.
Jadi, istilah orang yang dilahirkan dengan otak yang pas-pasan, biasa atau lumayan mungkin sedikit kurang tepat, karena menjadikan otak cerdas juga ada prosesnya. Contohnya pisau, jika dirawat dan diasah secara teratur maka akan menjadi sebuah pisau yang tajam luar biasa, namun jika dibiarkan maka bisa dipastikan lama-lama akan tumpul, karatan dan akhirnya tidak bisa digunakan.
Jika anda mempercayai bahwa kemampuan otak anda hanya “pas-pasan” maka itulah yang akan jadi kenyataan. Namun jika mulai sekarang anda percaya bahwa kemampuan otak anda “luar biasa” maka itulah yang akan terjadi. Memang semua butuh perjuangan dan proses. Pertanyaannya: mau nggak kita menjalani prosesnya?
Dan yang harus diingat, yang namanya “prestasi” itu tidak hanya prestasi akademik saja, karena prestasi ini—menurut para ahli—hanya menentukan sekitar 20% saja dari kesuksesan seseorang. Masih banyak prestasi atau kecerdasan lain yang lebih penting untuk kita kuasai agar bisa menjadi “juara sejati” di kehidupan ini. Juara di sekolah formal belumlah ada apa-apanya. Perlu diingat bahwa realitas dunia nyata itu jauh berbeda dengan dunia sekolah yang kita tempuh sejak kecil hingga dewasa. Dan juara sejati adalah mereka yang bisa mengalahkan diri sendiri (hawa nafsunya) dan bisa mengenal dirinya, karena dengan mengenal dirinya maka ia akan dapat mengenal Tuhannya sehingga bisa menjadikan hidupnya sebagai ladang amal shaleh dan perjuangan demi sebuah pengabdian mulia untuk kemaslahatan bersama. Ingat selalu sabda Rasulullah Saw yang artinya, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain”. Dari sini semoga tumbuh semangat juara bagi anda yang merasa otaknya “pas-pasan”.
***
Untuk jawaban pertanyaan kedua, silahkan anda baca artikel sebelumnya berjudul, “Kiat Efektif Menjadi PeDe dan Pandai Berbicara”. Sedangkan untuk pertanyaan terakhir, insya Allah akan dijawab untuk artikel edisi selanjutnya.
Maaf ya, ini saya bicaranya seperti orang pinter saja… padahal nggak ada apa-apanya, hehehe… (itu sepertinya gaya persuasif). Sampai-sampai Kang Arif lupa bahwa bulan ini lagi banyak-banyaknya kondangan ya.:-) Bukan bermaksud menggurui, lho… karena saya yang pantasnya digurui, hehehe… Jika sharing kita kali ini kurang bemutu, semoga saya diberi feed back agar bisa saling belajar.
Sebagai penutup artikel ini, marilah kita renungkan do’a Nabi Ibrahim yang diabadikan Allah dalam Al Qur’an surat Al Mumtahanah ayat 4 yang artinya, “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.
